Langsung ke kontenINDONESIA
BIOECONOMY
INITIATIVE

Tentang Kami

Apa itu bioekonomi?

Definisi, nilai, dan prinsip yang menjadi landasan Inisiatif Bioekonomi Indonesia — serta mengapa bioekonomi penting bagi Indonesia.

Definisi bioekonomi

Pengembangan bioekonomi Indonesia tidak hanya perlu mempertimbangkan arah perkembangan di tingkat global, namun perlu melihat arah pembangunan Indonesia sehingga menjadi penggerak dalam pencapaian target Indonesia Emas 2045. Berdasarkan kurasi dari definisi-definisi yang tersedia di tingkat global, prinsip-prinsip yang sudah disepakati dalam forum G20, serta arah kebijakan RPJPN 2045, maka definisi bioekonomi Indonesia diusulkan sebagai berikut:

“Bioekonomi merupakan sebuah bentuk ekonomi yang memanfaatkan sumberdaya dan proses hayati secara lestari untuk menciptakan barang dan jasa bernilai tambah lebih tinggi bagi Indonesia sehingga memajukan Indonesia sebagai sebuah perekonomian yang adil, makmur, dan berkelanjutan, serta menjunjung tinggi hakikat kemanusiaan.”

Definisi bioekonomi tersebut diharapkan dapat menjadi konsep payung (umbrella concept) oleh berbagai pihak agar pelaksanaannya dapat mengarah kepada tujuan yang sama secara nasional. Secara umum terdapat tiga hal penting yang tercermin dalam perumusan definisi bioekonomi di atas yaitu:

Tiga elemen kunci

  • Pemanfaatan sumber daya hayati yang diproses secara lestari

    Merujuk pada pemanfaatan tumbuhan, hewan dan mikroorganisme yang diproses menggunakan teknologi tertentu dengan memperhatikan kelestarian lingkungan sehingga kegiatan perekonomian yang dilakukan dapat berkelanjutan.

  • Nilai tambah lebih tinggi

    Merujuk pada sumber daya hayati yang telah diproses sedemikian rupa, menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi lebih besar dari sebelumnya. Hal ini juga mendorong inovasi untuk menghasilkan produk yang efisien dan mengurangi tingkat penggunaan sumber daya yang berlebih dengan manfaat ekonomi yang sebesar-besarnya.

  • Perekonomian Indonesia yang adil, makmur, dan berkelanjutan, serta menjunjung tinggi hakikat kemanusiaan

    Merujuk pada keuntungan nilai ekonomi yang diperoleh dengan mengedepankan keadilan sosial dan keberlanjutan sumber daya alam. Kriteria ini juga bermanfaat untuk membatasi kegiatan ekonomi yang dapat merusak kualitas kehidupan manusia, serta menghindari ketimpangan sosial yang menjadi amanah dalam pembukaan UUD 1945.

Nilai Kami

Tiga nilai bioekonomi Indonesia.

  • Menciptakan nilai tambah lebih tinggi

    Aktivitas pemanfaatan sumber daya hayati perlu menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi dibandingkan kegiatan konvensional — melalui inovasi, peningkatan kualitas, atau efisiensi dengan prinsip ekonomi sirkular — dengan pembagian keuntungan yang adil di seluruh rantai nilai, menghindari eksploitasi salah satu pihak.

  • Menerapkan teknologi dan inovasi

    Teknologi dan bioteknologi sebagai pembeda dari pendekatan ekstraktif — termasuk perangkat lunak, kecerdasan buatan, robotika, otomasi, hingga organisme hidup — disertai pengakuan atas kearifan lokal: kepastian hukum atas lahan yang dikelola berkelanjutan dan pembagian manfaat yang adil atas pemanfaatan HKI dari pengetahuan tradisional.

  • Mendorong peningkatan kesejahteraan (well-being)

    Mendorong kegiatan yang meningkatkan kualitas kehidupan manusia, sekaligus membatasi pengembangan yang merusak seperti persenjataan. Kesejahteraan ekonomi diukur dari peningkatan pendapatan masyarakat; kesejahteraan sosial dari pelibatan dan pemberdayaan masyarakat.

Prinsip Kami

Sepuluh prinsip G20 Initiative on Bioeconomy, dibaca dalam konteks Indonesia.

Buka setiap prinsip untuk melihat relevansinya dengan dokumen kebijakan nasional.

01

Mengintegrasikan dan mempromosikan pembangunan berkelanjutan di seluruh dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan, dan berkontribusi pada penghapusan kelaparan dan kemiskinan serta kualitas kesehatan dan kesejahteraan serta secara bersamaan memastikan ketahanan pangan dan nutrisi global.

RPJPN 2025–2045

Pembangunan berkelanjutan

Peningkatan nilai tambah pengolahan sumber daya alam hayati melalui bioekonomi sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.

RPJPN 2025–2045

Penghapusan kelaparan dan kemiskinan

Penciptaan lapangan kerja menengah ke atas di sektor-sektor produktif termasuk lapangan kerja hijau, biru.

RPJPN 2025–2045

Ketahanan pangan dan nutrisi global

Transformasi sistem pangan menuju eco-region sistem pangan yang berkelanjutan, sehat dan tangguh berbasis sumber daya dan kearifan lokal.

02

Inklusif dan adil, menegakkan hak-hak semua orang, termasuk masyarakat hukum adat dan masyarakat lokal, mempromosikan kesetaraan gender dan partisipasi seluruh pemangku kepentingan.

RPJPN 2025–2045

Hak masyarakat adat dan komunitas lokal

Ribuan masyarakat adat dan komunitas lokal (indigenous peoples and local communities) Indonesia mendiami berbagai wilayah dengan kekayaan biodiversitas dan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan yang tinggi. Pendekatan agroforestri melibatkan masyarakat lokal.

RPJPN 2025–2045

Kesetaraan gender

Penguatan pengarusutamaan gender (PUG) dan inklusi sosial untuk memastikan tidak ada satu orang pun yang tertinggal dalam pembangunan.

03

Meningkatkan upaya mitigasi dan adaptasi atas perubahan iklim global, dengan memperhatikan perjanjian iklim multilateral.

RPJPN 2025–2045

Mitigasi dan adaptasi perubahan iklim

Pembangunan berketahanan iklim untuk menekan potensi kerugian ekonomi akibat perubahan iklim.

04

Berkontribusi pada konservasi keanekaragaman hayati, pemanfaatan komponen-komponennya secara berkelanjutan, dan pembagian secara adil dan merata atas manfaat yang timbul dari pemanfaatan sumber daya genetik serta pengetahuan tradisional terkait, dengan memperhatikan instrumen dan perjanjian multilateral yang terkait.

RPJPN 2025–2045

Komponen keanekaragaman hayati

Keragaman genetik, spesies, dan ekosistem.

RPJPN 2025–2045

Pemanfaatan keanekaragaman hayati berkelanjutan

Pemanfaatan sumber daya hayati sebagai produk bernilai tinggi, terutama obat-obatan (farmasi), pangan, pakan, material, dan energi untuk mengurangi penggunaan sumber daya fosil.

05

Meningkatkan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan dan pemanfaatan sumber daya biologi secara efisien dan sirkuler dengan tetap mempromosikan restorasi dan regenerasi dari wilayah dan ekosistem yang terdegradasi.

IBSAP 2025–2045

Pembagian secara adil dan merata atas manfaat sumber daya genetik serta pengetahuan tradisional

Pelibatan dan pemberian keuntungan finansial dan/atau non finansial bagi masyarakat adat dan/atau tradisional sebagai pemelihara sumber daya hayati, termasuk genetik, yang menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat.

06

Dikembangkan melalui penggunaan yang aman, terjamin, dan bertanggung jawab dari ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi dan pengetahuan tradisional, dengan potensi manfaat, risiko, dan dampak yang dinilai secara ilmiah.

RPJPN 2025–2045

Penggunaan inovasi

Penguatan ekosistem riset dan inovasi berkelanjutan, termasuk dalam hal kerangka regulasi, pembiayaan dan investasi, serta tenaga peneliti untuk pengembangan bioekonomi.

07

Mendapat manfaat dari kerangka kebijakan yang koheren yang memperkuat perdagangan produk dan layanan bioekonomi, kondisi pasar, model bisnis berkelanjutan, pekerjaan yang layak, penciptaan nilai lokal, serta partisipasi masyarakat dan sektor swasta.

RPJPN 2025–2045

Kerangka kebijakan yang koheren

Stabilitas ekonomi makro terjaga, didukung oleh sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang semakin baik dalam mengatasi berbagai tekanan, baik global maupun domestik.

Indeks Ekonomi Hijau

Model bisnis berkelanjutan

Strategi ini bertujuan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi dengan mewujudkan kesejahteraan sosial serta menjaga kualitas lingkungan.

UU No. 6 Tahun 2023

Pekerjaan yang layak

Negara perlu melakukan berbagai upaya untuk memenuhi hak warga negara atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan melalui cipta kerja.

08

Menggunakan kriteria dan metodologi yang transparan, dapat dibandingkan, terukur, inklusif, berbasis ilmiah, dan kontekstual untuk menilai keberlanjutannya di seluruh rantai nilai.

Contoh

Menilai keberlanjutan

Indikator Indeks Ekonomi Hijau.

09

Diperkuat dengan kolaborasi dan kerja sama internasional yang merespon pada tantangan global, memanfaatkan kekuatan pelengkap, inovasi dan kewirausahaan, serta mendorong pembiayaan, pengembangan kapasitas, dan berbagi informasi tentang praktek terbaik.

Perpres No. 59 Tahun 2017

Kolaborasi dan kerja sama internasional

Meningkatkan kerjasama Utara-Selatan, Selatan-Selatan dan kerjasama triangular secara regional dan internasional dan akses terhadap sains, teknologi dan inovasi, dan meningkatkan berbagi pengetahuan berdasar kesepakatan timbal balik, termasuk melalui koordinasi yang lebih baik antara mekanisme yang ada, khususnya di tingkat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan melalui mekanisme fasilitas teknologi global.

10

Berdasarkan pendekatan spesifik negara dan diterapkan sesuai dengan prioritas nasional serta kondisi regional dan lokal.

UU No. 59 Tahun 2024

Prioritas nasional, keadaan regional dan lokal

Tercantum dalam UU No. 59 Tahun 2024 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2025–2045.

Mengapa bioekonomi?

Mengapa penting, apa yang dipertaruhkan, dan apa yang dibutuhkan.

Pertanyaan 01

Mengapa Indonesia fokus pada bioekonomi?

Indonesia adalah negara megabiodiversitas. Sumber daya hayatinya, di darat maupun di laut, dapat mendorong perekonomian yang lebih inklusif dan berkelanjutan — namun sebagian besar potensinya belum tereksplorasi dan dimanfaatkan secara optimal.

juta ha hutan (2024)
95,5
spesies burung dunia
17%
spesies ikan dunia
25%
  • Amanat nasional

    Bioekonomi menjadi kebijakan strategis dalam RPJPN 2025–2045 dan RPJMN 2025–2029 — agenda transformasi ekonomi menuju Visi Indonesia Emas 2045.

  • Sumber pertumbuhan baru

    Setiap penambahan 10% permintaan produk berbasis hayati dapat meningkatkan pertumbuhan output ekonomi hingga 9%.

  • Prioritas Asta Cita

    Swasembada pangan, energi, dan air; pelestarian lingkungan hidup; serta hilirisasi sumber daya alam untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

  • Komitmen global

    SDGs, Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD), dan Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework; serta G20 Initiative on Bioeconomy (Brasil, 2024).

Pertanyaan 02

Apa risikonya jika kita tidak beralih?

Tanpa peralihan, kekayaan hayati tetap kurang dimanfaatkan, praktik tetap terpisah antarsektor, dan manfaat ekonomi serta lingkungan yang dimodelkan untuk 2045 tidak tercapai.

PDB Nasional yang lebih tinggi pada tahun 2045
+24%
Nilai Tambah pada Tahun 2045
+40%
Cadangan lahan karbon
25,2B TonC

Skenario IBI dibandingkan business-as-usual, 2045. Hasil pemodelan, bukan hasil terukur.

  • Praktik yang terpisah

    Praktik bioekonomi masih diterapkan terpisah oleh sektor kehutanan, pertanian, dan perikanan tanpa prinsip terpadu — membatasi pemahaman kolektif dan sinergi antarsektor.

  • Potensi yang belum tergarap

    Sumber daya alam yang melimpah belum dimanfaatkan optimal karena belum ada kerangka kebijakan yang jelas dan panduan praktis yang dapat diadopsi seluruh pemangku kepentingan.

Pertanyaan 03

Bagaimana bioekonomi melengkapi ekonomi biru, hijau, sirkular, digital, dan kreatif?

Bioekonomi beririsan dengan ekonomi hijau — misalnya produksi biofuel dari tanaman yang sekaligus mengurangi emisi karbon — dan dengan ekonomi biru, misalnya akuakultur berbasis ekosistem. Pemahaman keterkaitan ketiganya menitikberatkan pada sinergi, inovasi, dan pengambilan keputusan yang lebih baik.

Kerangka bioekonomi: di dalam ekonomi hijau dan ekonomi biru, bioprospeksi berlanjut melalui nilai tambah, penerapan teknologi, dan kesejahteraan menuju komersialisasi
Gambar 1. Kerangka bioekonomi dalam sistem perekonomian Indonesia
  • Ekonomi sirkular

    Sama-sama bertujuan menutup siklus; bioekonomi menambahkan pemanfaatan residu dan produk sampingan biomassa secara berkelanjutan.

  • Ekonomi digital

    Perangkat digital — perangkat lunak, kecerdasan buatan, otomasi, dan ketertelusuran produk — menjadi bagian dari teknologi yang diterapkan bioekonomi di sepanjang rantai nilai.

  • Ekonomi kreatif

    Disebut bersama ekonomi hijau dan biru dalam Asta Cita 2; desain, merek, dan pengetahuan lokal membantu produk hayati seperti kosmetik alami dan pangan lokal menjangkau pasar.

  • Perbandingan konsep

    Modal alam, manusia, dan finansial, kebijakan, serta peran komunitas — dibandingkan antara bioekonomi, ekonomi sirkular, hijau, dan restoratif di bawah ini.

Tampilkan tabel perbandingan konsep

Kajian Cendekia Iklim Indonesia melalui Systematic Literature Review (147 dokumen pencarian database Scopus dan 87 dokumen hasil PRISMA) dan analisis dokumen kebijakan.

DimensiBioekonomiCircular EconomyGreen EconomyRestorative Economy
Natural capitalMengelola stok dan kualitas biomassa (sumber daya hayati) dan mem-valorisasi residu & by-product secara berkelanjutan.Menjaga & meregenerasi natural capital melalui closing the loop (reuse, recycle, remanufacturing, reduksi limbah).Investasi & perlindungan natural capital sebagai basis pertumbuhan hijau dengan safeguards.Merehabilitasi & membangun kembali ekosistem yang rusak melalui restorasi aktif.
Human capitalKompetensi teknis & sosial untuk rantai nilai biomassa (petani, nelayan, teknisi, ilmuwan, komunitas lokal).Capacity building organisasi dan pembelajaran untuk adopsi model sirkular.Peningkatan pengetahuan & kesadaran umum tentang keberlanjutan.Keahlian teknis & sosial untuk restorasi jangka panjang dan stewardship.
Financial capitalInvestasi & kelayakan usaha di rantai nilai bio-based (produksi, pengolahan, bioteknologi).Modal sebagai pemicu inovasi & model bisnis sirkular.Insentif & pembiayaan hijau untuk mengarahkan ekonomi.Pembiayaan proyek restorasi dan biaya transisi menuju ekosistem pulih.
Policy & regulationKerangka kebijakan lintas sektor untuk pengelolaan biomassa, bioindustri, etika, dan R&D.Aturan yang mendorong circularity (EPR, standar desain, insentif circular business).Kebijakan hijau umum: standar lingkungan, emisi, perlindungan alam.Kebijakan yang menjamin restorasi ekologis dan tenure jangka panjang.
Peran komunitasKomunitas sebagai produsen, mitra industri, dan penjaga ekosistem dalam rantai nilai bioekonomi.Stakeholder terlibat dalam value creation model bisnis sirkular; komunitas sering diposisikan sebagai pengguna/pasar.Partisipasi dalam program & kebijakan hijau, sering top-down.Komunitas sangat sentral dalam proyek restorasi sosial-ekologis.

Pertanyaan 04

Apa kesenjangan yang perlu diatasi?

Pengembangan bioekonomi di Indonesia masih berada pada tahap awal. Empat kesenjangan tata kelola memisahkan potensi dari praktik.

  • Kebijakan dan regulasi

    Kebijakan terkait bioekonomi sudah ada, namun masih bersifat sektoral dan belum terintegrasi; diperlukan penyelarasan yang lebih mendalam agar tercipta sinergi antarsektor.

  • Kelembagaan, koordinasi, dan ekosistem

    Belum terbentuk ekosistem yang kuat antara pemerintah, investor, industri, dan pasar, sehingga diperlukan kebijakan yang terintegrasi dari hulu ke hilir.

  • Pendanaan, investasi, dan bisnis

    Indonesia belum memiliki model bisnis yang layak sehingga upaya perusahaan untuk berinvestasi masih minim karena berbagai biaya masih terlalu tinggi.

  • Teknologi dan inovasi

    Investasi riset dan pengembangan (R&D) masih sangat terbatas dan terfokus pada unit bisnis tertentu, sehingga membatasi kapasitas Indonesia mengoptimalkan potensi bioekonominya.

Yang dibutuhkan selanjutnya

  • Penyempurnaan ruang lingkup
  • Strategic plan yang rinci dan praktikal
  • Sistem traceability
  • Kawasan ekonomi berbasis hayati
Lihat peta jalan →

Pertanyaan 05

Bagaimana aktor pendukung dapat berperan?

Pengembangan bioekonomi bukan hanya transformasi ekonomi, tetapi juga transformasi sosial. Setiap aktor memiliki peran di sepanjang rantai nilai.

  • Masyarakat sebagai Produsen Berbasis Komunitas

    Produsen berbasis komunitas menopang bioekonomi lokal melalui pemanfaatan sumber daya hayati secara bertanggung jawab, praktik produksi yang mendukung keanekaragaman hayati, dan penciptaan nilai ekonomi lokal.

  • Masyarakat sebagai Mitra Industri

    Masyarakat berkontribusi pada industri berbasis hayati sebagai pemasok dan penyedia jasa, sementara pengadaan bahan baku yang berkelanjutan dan kemitraan yang adil membantu menjaga ketersediaan sumber daya serta memastikan penciptaan nilai yang inklusif.

  • Masyarakat sebagai Penjaga Ekosistem

    Masyarakat Adat dan masyarakat lokal berkontribusi dalam menjaga ekosistem dan keanekaragaman hayati, sehingga membantu mempertahankan sumber daya hayati dan fungsi ekologis yang menjadi fondasi pengembangan bioekonomi jangka panjang.

  • Pemerintah sebagai enabler

    Regulasi, insentif, dan koordinasi lintas sektor, agar pelaku usaha dapat mengambil porsi peran yang lebih besar dalam pengembangan bioekonomi.

  • Pelaku usaha dan investor

    Model bisnis yang layak, investasi pada pengolahan dan R&D, serta kemitraan yang adil dengan produsen.

  • Riset dan inovasi

    Riset dasar dan terapan bioteknologi yang diintegrasikan ke sektor industri sehingga hasilnya menjadi produk dan teknologi.

  • Organisasi mitra

    Organisasi mitra mendukung inisiatif ini.

  • Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ)
  • KADIN Regenerative Forest Business
  • Koalisi Ekonomi Membumi
  • Cendekia Iklim Indonesia
Ingin berperan?Hubungi kami
Komoditas hayati Indonesia: kakao, pala, kelapa, kopi, kemiri, rumput laut, dan lanskap kepulauan

Catat tanggalnya

Indonesia Bioeconomy Initiative

Annual Summit 2026

Manusia. Alam. Peluang.

Bergabunglah bersama kami di Jakarta dalam Indonesia Bioeconomy Initiative Annual Summit 2026, sebuah pertemuan untuk menjelajahi jalur bioekonomi Indonesia yang bertanggung jawab serta menghubungkannya dengan pengalaman dan kemitraan global.

Tanggal
3 Desember 2026
Lokasi
Jakarta, Indonesia
Daftar (RSVP)